Siomay dan Bakso “Abadi”: Dua Jajanan Favorit Indonesia yang Paling Rentan Formalin

Siomay dan bakso telah lama menduduki puncak daftar jajanan Favorit Indonesia. Kekenyalan teksturnya, rasa gurihnya, dan kemudahan mendapatkannya menjadikan kedua makanan olahan daging ini dicintai semua kalangan, dari pedagang kaki lima hingga restoran mewah. Namun, di balik popularitasnya, ada ironi kesehatan yang mengintai. Keduanya seringkali menjadi sasaran empuk penyalahgunaan bahan pengawet berbahaya seperti formalin, yang dilarang keras dalam pangan.

Formalin adalah larutan formaldehida yang seharusnya digunakan untuk pengawet mayat atau industri, bukan makanan. Namun, karena kemampuannya membuat makanan menjadi sangat kenyal, awet berhari-hari, dan tidak mudah dihinggapi lalat, formalin sering disalahgunakan oleh pedagang nakal. Bagi bakso dan siomay, sifat tahan lama ini sangat menguntungkan secara ekonomi, meski mengancam konsumen Favorit Indonesia secara masif.

Bakso, produk olahan daging yang populer, rentan terhadap formalin karena tingginya kandungan air dan proteinnya, yang membuatnya cepat basi. Formalin diinjeksikan untuk memperpanjang daya simpan, menjamin bakso tetap ‘abadi’ di gerobak pedagang. Konsumen yang tidak menyadari membelinya karena teksturnya yang lebih padat dan kenyal, yang justru merupakan salah satu indikasi adanya formalin. Bakso tetap menjadi Favorit Indonesia, namun konsumen harus waspada.

Demikian pula siomay, baik yang disajikan dengan bumbu kacang atau sebagai pelengkap bakso, juga kerap ditemukan positif mengandung formalin. Siomay yang dibuat dari campuran ikan dan tepung ini memiliki karakteristik yang sama: cepat rusak. Penggunaan formalin membuatnya lebih elastis dan tidak cepat berbau busuk meskipun disimpan di suhu ruangan. Formalin mengubah Favorit Indonesia ini menjadi ancaman kesehatan jangka panjang.

Konsumsi formalin, bahkan dalam dosis kecil secara terus-menerus, sangat berbahaya. Formalin bersifat karsinogenik dan dapat merusak sistem pencernaan, ginjal, hati, hingga meningkatkan risiko kanker. Anak-anak, yang merupakan konsumen terbesar jajanan Favorit Indonesia ini, menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak jangka panjang dari paparan bahan kimia berbahaya tersebut.

Masyarakat harus cerdas dalam memilih jajanan. Bakso dan siomay yang mengandung formalin biasanya memiliki ciri-ciri tertentu: tidak lengket, sangat kenyal, tidak berbau khas ikan atau daging, dan cenderung tidak dikerubungi lalat. Jika jajanan Favorit Indonesia ini bertahan lebih dari 24 jam di suhu ruang tanpa perubahan aroma, patut dicurigai adanya pengawet terlarang.