Pemanfaatan AI dalam Sektor Pertanian: Studi Kasus dari University of Bejaia

Revolusi Pemanfaatan AI (kecerdasan buatan) kini menjangkau hingga ke Sektor Pertanian, menjanjikan peningkatan signifikan dalam efisiensi dan hasil panen global. Salah satu studi kasus paling menarik datang dari University of Bejaia di Aljazair, yang menunjukkan bagaimana teknologi Pertanian Presisi dapat diterapkan secara efektif bahkan di lingkungan dengan keterbatasan sumber daya. Penelitian ini menegaskan bahwa Pemanfaatan AI bukan lagi kemewahan, tetapi keharusan strategis untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan di masa depan, terutama di negara-negara yang menghadapi perubahan iklim ekstrem. Implementasi Pemanfaatan AI ini berfokus pada optimasi penggunaan air, identifikasi penyakit tanaman, dan prediksi hasil panen.

Studi yang dipimpin oleh Dr. Karim Bensalem dari Fakultas Ilmu Pertanian University of Bejaia ini berfokus pada pengembangan sistem Pertanian Presisi berbasis machine learning untuk perkebunan zaitun dan gandum. Proyek ini, yang diluncurkan pada Januari 2025, menggunakan sensor tanah nirkabel dan citra satelit yang dianalisis oleh algoritma AI. Algoritma ini dirancang untuk memprediksi kebutuhan irigasi dan nutrisi tanaman secara spesifik per zona lahan, bukan secara merata. Hasil awal menunjukkan bahwa metode ini berhasil mengurangi konsumsi air hingga 30% dan meningkatkan hasil panen sebesar 15% dibandingkan dengan metode irigasi tradisional, sebuah pencapaian yang sangat krusial bagi Sektor Pertanian di wilayah kering.

Keberhasilan Pemanfaatan AI dalam Sektor Pertanian di Bejaia terletak pada keakuratan sistem pendeteksi penyakit. Model AI ini dilatih menggunakan ribuan gambar daun tanaman yang terinfeksi berbagai penyakit jamur dan hama. Dengan menggunakan Kawalan Dron (analoginya adalah drone yang dilengkapi kamera) untuk memindai kebun secara rutin pada pukul 10.00 pagi setiap hari kerja, sistem dapat mengidentifikasi tanda-tanda awal infeksi dengan akurasi 95%. Deteksi dini ini memungkinkan petani untuk melakukan intervensi secara lokal dan meminimalkan penggunaan pestisida secara berlebihan, sebuah langkah penting menuju Pertanian Presisi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Dr. Bensalem dalam laporannya yang dipublikasikan pada 28 September 2025, menekankan bahwa kunci untuk mereplikasi kesuksesan Pertanian Presisi ini adalah Investasi Data yang berkelanjutan dan pelatihan petani. Data yang akurat dan real-time adalah bahan bakar bagi AI. Oleh karena itu, University of Bejaia telah bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menyelenggarakan program pelatihan bagi 500 petani lokal, mengajarkan mereka cara menggunakan interface sederhana untuk sistem Pemanfaatan AI tersebut. Inovasi Sektor Pertanian yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan ini telah menarik perhatian delegasi pertanian dari Maroko dan Tunisia, yang berencana mengadopsi model Pertanian Presisi serupa di negara mereka.