Serunya Mencoba Permainan Tradisional Meriam Bambu Khas Sumatera Utara
Berkunjung ke Sumatera Utara tak hanya disuguhi keindahan alam dan kelezatan kulinernya. Di beberapa daerah, terutama saat perayaan hari-hari besar atau menyambut bulan suci Ramadan, Anda berkesempatan untuk menyaksikan dan bahkan mencoba keseruan permainan tradisional meriam bambu. Tradisi unik ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat setempat.
Permainan tradisional meriam bambu ini biasanya dimainkan oleh anak-anak hingga remaja laki-laki. Mereka beramai-ramai membuat meriam dari batang bambu berukuran cukup besar dengan panjang sekitar 1 hingga 2 meter. Bagian dalam bambu dilubangi, dan di salah satu ujungnya dibuatkan lubang kecil sebagai tempat memasukkan bahan peledak berupa karbit atau spirtus. Cara memainkannya pun cukup sederhana namun membutuhkan kehati-hatian. Setelah bahan peledak dimasukkan, lubang kecil tersebut disulut dengan api menggunakan lidi atau korek dari jarak aman. Ledakan yang dihasilkan cukup keras dan menggelegar, menambah keseruan permainan tradisional ini.
Salah satu desa yang masih aktif melestarikan permainan tradisional meriam bambu ini adalah Desa Sei Rotan, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Pada sore hari menjelang berbuka puasa di bulan Ramadan tahun 2025 ini, misalnya, lapangan desa dipenuhi oleh anak-anak dan remaja yang asyik memainkan meriam bambu buatan mereka. Suara dentuman meriam bambu saling bersahutan, menciptakan suasana yang meriah dan penuh kegembiraan.
Menurut Bapak Jamaluddin (58 tahun), seorang tokoh masyarakat Desa Sei Rotan, permainan tradisional meriam bambu ini bukan hanya sekadar hiburan semata. “Dulu, permainan ini juga berfungsi sebagai penanda waktu berbuka puasa. Suara dentumannya yang keras bisa terdengar hingga ke pelosok desa,” ujarnya sambil tersenyum mengenang masa kecilnya. Selain itu, permainan ini juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong antar anak-anak dalam proses pembuatan dan memainkannya.
Meskipun terkesan sederhana, memainkan meriam bambu tetap memerlukan pengawasan dan kehati-hatian. Para orang tua di Desa Sei Rotan selalu mengingatkan anak-anak mereka untuk tidak bermain terlalu dekat dengan meriam saat menyulut api dan memastikan area bermain aman dari jangkauan orang lain. Penggunaan bahan peledak seperti karbit juga perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan bahaya.
Keberadaan permainan tradisional meriam bambu ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Utara, terutama saat bulan Ramadan atau perayaan hari besar lainnya. Melihat keceriaan anak-anak memainkan meriam bambu menjadi pengalaman unik yang sulit ditemukan di daerah lain. Upaya pelestarian tradisi ini patut diapresiasi agar warisan budaya ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang. Jika Anda berkesempatan berkunjung ke Sumatera Utara, jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan atau bahkan mencoba sensasi “ledakan” dari meriam bambu ini.
