Polisi Amankan Begal Dari Amukan Warga di Kota Medan

Tiga orang pelaku begal berhasil diamankan oleh pihak kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Medan dari amukan massa. Para pelaku polisi amankan begal ini tertangkap basah saat menjalankan aksinya di wilayah Kota Medan. Beruntung, kesigapan petugas kepolisian berhasil meredam kemarahan warga dan mengamankan para pelaku dari tindakan main hakim sendiri. Insiden polisi amankan begal ini terjadi pada hari Jumat dini hari, 11 April 2025, sekitar pukul 03.00 WIB, di kawasan Jalan Gatot Subroto, Medan.

Kronologi Polisi Amankan Begal Dari Amukan Warga

Menurut informasi dari pihak kepolisian, ketiga pelaku polisi amankan begal tersebut berjumlah tiga orang dan mengendarai sepeda motor. Mereka melakukan aksinya dengan cara memepet korban yang sedang melintas seorang diri menggunakan sepeda motor. Para pelaku kemudian mengancam korban dengan senjata tajam dan berusaha merampas sepeda motor korban. Namun, aksi polisi amankan begal ini dipergoki oleh warga sekitar yang kemudian berusaha menangkap para pelaku.

Teriakan korban dan aksi pengejaran warga menarik perhatian petugas kepolisian yang sedang melakukan patroli rutin di sekitar lokasi. Dengan sigap, petugas kepolisian berhasil mengamankan ketiga pelaku polisi amankan begal tersebut dari amukan massa yang sudah mulai emosi. Beberapa warga yang geram sempat melayangkan pukulan kepada para pelaku sebelum akhirnya petugas berhasil mengendalikan situasi.

Identitas Pelaku dan Barang Bukti Diamankan Polisi

Ketiga pelaku begal yang berhasil diamankan tersebut diketahui berinisial AS (21 tahun), BN (19 tahun), dan CR (20 tahun). Dari tangan para pelaku, polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa satu unit sepeda motor yang digunakan para pelaku untuk beraksi, senjata tajam jenis celurit, serta sepeda motor milik korban yang hendak dirampas. Para pelaku kemudian dibawa ke Mapolrestabes Medan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Kapolrestabes Medan Apresiasi Kesigapan Anggota

Kepala Polrestabes Medan, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Budi Santoso, S.I.K., M.H., mengapresiasi kesigapan anggotanya yang berhasil mengamankan para pelaku begal dari amukan warga. Beliau juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak main hakim sendiri dan menyerahkan penanganan pelaku tindak pidana kepada pihak kepolisian. Pihaknya menegaskan akan menindak tegas всякого bentuk tindak kriminalitas, termasuk begal, yang meresahkan masyarakat Kota Medan. Para pelaku akan dijerat dengan pasal tentang percobaan perampokan dengan kekerasan.

Nelayan Raup Cuan dengan Budidaya Kerang Dara di Medan

Kabar gembira datang dari pesisir Medan, Sumatera Utara. Sejumlah nelayan di kawasan Kampung Nelayan Sejahtera, Kecamatan Medan Belawan, berhasil meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan melalui budidaya kerang dara. Salah satunya adalah Bapak Herman (48), seorang nelayan yang telah menekuni budidaya kerang dara selama beberapa tahun terakhir.

Awal Mula Budidaya Kerang Dara:

Menurut penuturan Bapak Herman, ia dan beberapa rekannya mulai mencoba budidaya kerang sekitar tiga tahun lalu. Ide ini muncul sebagai alternatif mata pencaharian di luar melaut, yang hasilnya terkadang tidak menentu. Dengan modal awal yang relatif kecil dan memanfaatkan perairan dangkal di sekitar kampung mereka, budidaya kerang ternyata memberikan hasil yang menjanjikan.

Lokasi dan Metode Budidaya:

Lokasi budidaya kerang yang dikembangkan oleh Bapak Herman dan kelompoknya berada di perairan dangkal yang memiliki pasang surut air laut yang ideal. Mereka menggunakan metode sederhana dengan membuat bedengan dari bambu dan jaring sebagai tempat bibit kerang dara ditabur. Bibit kerang dara diperoleh dari hasil tangkapan alam maupun dari pemasok bibit terpercaya.

Panen Menguntungkan:

Setelah masa pemeliharaan sekitar 4 hingga 6 bulan, kerang dara siap panen. Bapak Herman mengungkapkan bahwa dalam sekali panen dari bedengan seluas sekitar 100 meter persegi, ia bisa menghasilkan hingga 500 kilogram kerang dara. Dengan harga jual kerang dara di pasaran lokal yang berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per kilogram, hasil panen tersebut memberikan keuntungan yang cukup besar.

“Alhamdulillah, dengan budidaya kerang ini, pendapatan kami jauh lebih stabil dibandingkan hanya mengandalkan hasil melaut. Permintaan pasar juga cukup tinggi, terutama dari restoran dan rumah makan seafood di Medan,” ujar Bapak Herman saat ditemui di lokasi budidayanya.

Keberhasilan Bapak Herman dan nelayan lainnya dalam budidaya kerang dara ini menjadi inspirasi bagi masyarakat pesisir lainnya di Medan.

Potensi Pengembangan:

Budidaya kerang dara di Medan diyakini memiliki potensi pengembangan yang besar. Selain memberikan keuntungan ekonomi bagi nelayan, aktivitas ini juga relatif ramah lingkungan karena tidak merusak ekosistem laut.

Kisah dan Sejarah Grand Inna Hotel Tertua di Medan

Berdiri megah di jantung Kota Medan, tepatnya di Jalan Balai Kota Nomor 2, Grand Inna Medan bukan sekadar hotel. Lebih dari itu, ia adalah saksi bisu perkembangan kota dan menyimpan sejarah panjang yang menarik untuk diulik. Dikenal sebagai hotel tertua di Medan, bangunan ini memiliki akar yang kuat sejak era kolonial Belanda.

Lahirnya ‘Hotel De Boer’ di Tanah Deli

Jejak sejarah Grand Inna Medan bermula pada tahun 1898. Seorang pengusaha Belanda bernama Aeint Herman de Boer mendirikan sebuah penginapan kecil yang awalnya bernama Hotel De Boer. Pada masa itu, Medan mulai berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan perkebunan, menarik kedatangan banyak orang Eropa.

Seiring berjalannya waktu dan semakin ramainya kunjungan ke Medan, Hotel De Boer terus mengalami perluasan. Pada tahun 1909, jumlah kamar bertambah menjadi 40. Kemudian, pada tahun 1930, hotel ini kembali diperluas secara signifikan dengan penambahan 120 kamar dan sebuah aula besar, menjadikannya salah satu hotel termegah di Medan pada masanya. Bahkan, tokoh-tokoh penting seperti Raja Leopold II dari Belgia dan mata-mata terkenal, Mata Hari, pernah menginap di hotel bersejarah ini.

Transformasi Menjadi Grand Inna Medan

Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tanggal 14 Desember 1957, dalam rangka nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda, Hotel De Boer diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Kemudian, hotel ini mengalami beberapa kali perubahan nama hingga akhirnya dikenal sebagai Grand Inna Medan. Meskipun telah mengalami pemugaran dan penambahan bangunan baru seperti Hotel Wisma Deli yang didirikan di area yang sama pada tahun 1965, bangunan asli Hotel De Boer yang bergaya kolonial tetap dipertahankan hingga kini, terutama pada bagian tengah hotel yang memiliki dua lantai dan 51 kamar.

Menyaksikan Sejarah di Jantung Kota

Lokasinya yang strategis, berseberangan dengan Kantor Pos Medan dan Lapangan Merdeka, serta berdekatan dengan bangunan-bangunan bersejarah lainnya seperti Balai Kota Medan dan Bank Indonesia, semakin menambah nilai sejarah Grand Inna Medan. Menginap di hotel ini bukan hanya sekadar mencari tempat beristirahat, tetapi juga merasakan jejak sejarah Kota Medan di setiap sudut bangunannya.